Pustaha ditulis oleh datu atau guru Batak, yakni Orang yang memiliki ilmu spiritual dan pengobatan. Biasanya melalui proses pemilihan dan pelatihan khusus dan Ilmu dalam pustaha sering diturunkan secara turun-temurun, dari guru ke murid.
Pustaha dianggap sebagai asal atau sumber utama aksara Batak karena naskah-naskah inilah yang menjadi bukti tertua dan paling autentik dari penggunaan sistem tulisan tradisional Batak secara konsisten. Aksara Batak—yang dikenal juga sebagai surat Batak—merupakan sistem tulisan yang berkembang di kalangan masyarakat Batak Toba, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Angkola, dan digunakan secara turun-temurun dalam tradisi lisan dan tulisan. Namun, tidak seperti aksara lain yang berkembang untuk kebutuhan umum masyarakat, aksara Batak pada awalnya bersifat sangat khusus: ia digunakan hampir secara eksklusif oleh para datu atau dukun dalam penulisan pustaha, yaitu buku-buku sakral yang memuat ilmu pengetahuan tradisional Batak, seperti pengobatan, ramalan, mantra, kalender, dan strategi peperangan.
Dalam konteks sejarah dan budaya, pustaha bukan hanya menjadi tempat “penyimpanan” pengetahuan leluhur, tetapi juga satu-satunya media tertulis yang mencatat secara sistematis penggunaan aksara Batak. Karena itu, ketika para peneliti dan filolog modern mempelajari asal-usul dan bentuk-bentuk varian dari aksara Batak, mereka hampir selalu merujuk pada pustaha sebagai sumber utama. Tanpa pustaha, jejak penggunaan aksara Batak mungkin akan hilang atau setidaknya tidak terdokumentasi secara utuh.
Dengan kata lain, pustaha berfungsi seperti “perpustakaan mini” tradisional masyarakat Batak yang tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga menjaga eksistensi dan kelangsungan sistem tulisannya. Oleh karena itu, pustaha bukan hanya warisan literatur, tetapi juga tonggak sejarah perkembangan aksara Batak itu sendiri.