Pustaha

From The Great Datu

Pustaha ditulis oleh datu atau guru Batak, yakni Orang yang memiliki ilmu spiritual dan pengobatan. Biasanya melalui proses pemilihan dan pelatihan khusus dan Ilmu dalam pustaha sering diturunkan secara turun-temurun, dari guru ke murid. 

Pustaha dianggap sebagai asal atau sumber utama aksara Batak karena naskah-naskah inilah yang menjadi bukti tertua dan paling autentik dari penggunaan sistem tulisan tradisional Batak secara konsisten. Aksara Batak—yang dikenal juga sebagai surat Batak—merupakan sistem tulisan yang berkembang di kalangan masyarakat Batak Toba, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Angkola, dan digunakan secara turun-temurun dalam tradisi lisan dan tulisan. Namun, tidak seperti aksara lain yang berkembang untuk kebutuhan umum masyarakat, aksara Batak pada awalnya bersifat sangat khusus: ia digunakan hampir secara eksklusif oleh para datu atau dukun dalam penulisan pustaha, yaitu buku-buku sakral yang memuat ilmu pengetahuan tradisional Batak, seperti pengobatan, ramalan, mantra, kalender, dan strategi peperangan.

Dalam konteks sejarah dan budaya, pustaha bukan hanya menjadi tempat “penyimpanan” pengetahuan leluhur, tetapi juga satu-satunya media tertulis yang mencatat secara sistematis penggunaan aksara Batak. Karena itu, ketika para peneliti dan filolog modern mempelajari asal-usul dan bentuk-bentuk varian dari aksara Batak, mereka hampir selalu merujuk pada pustaha sebagai sumber utama. Tanpa pustaha, jejak penggunaan aksara Batak mungkin akan hilang atau setidaknya tidak terdokumentasi secara utuh.

Dengan kata lain, pustaha berfungsi seperti “perpustakaan mini” tradisional masyarakat Batak yang tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga menjaga eksistensi dan kelangsungan sistem tulisannya. Oleh karena itu, pustaha bukan hanya warisan literatur, tetapi juga tonggak sejarah perkembangan aksara Batak itu sendiri.

Buku Batak tentang Sihir, Ritual, Resep dan Ramalan, Tumuran Hatta Nihaji, 1852/1857, Dari koleksi: Museum Nasional van Wereldculturen via artsandculture.google.com

Foto oleh Museum Nasional van Wereldculturen viaartsandculture.google.com

Pustaha adalah buku tradisional masyarakat Batak yang berisi ilmu pengetahuan kuno, terutama yang berkaitan dengan adat, ramalan, pengobatan, mantra, ilmu gaib, dan ajaran spiritual. Buku ini ditulis tangan oleh para datu (dukun, tabib, atau guru spiritual) dengan aksara Batak.

Bahan dan Bentuk Pustaha:

Isi Dan Fungsi

Jika kita mengenal The Art of War karya Sun Tzu sebagai kitab strategi perang yang melegenda dari Tiongkok, suku Batak di Indonesia juga memiliki naskah kuno yang serupa, yakni Pustaha Poda Ni Si Mamis. Judul tersebut secara harfiah berarti “Instruksi Menghancurkan Musuh” (Instruction to Destroy Enemies). Naskah ini merupakan bagian dari tradisi pustaha, yaitu buku-buku kuno berbahasa Batak yang ditulis di atas kulit kayu pohon alim. Pustaha Poda Ni Si Mamis berisi ajaran-ajaran, strategi, dan petunjuk mengenai cara menghadapi dan mengalahkan musuh, baik secara fisik maupun melalui metode-metode spiritual dan taktik khas budaya Batak. Naskah ini diyakini digunakan oleh para dukun atau datu sebagai pedoman dalam peperangan dan konflik antarsuku di masa lalu. Keberadaan pustaha ini mencerminkan betapa tingginya nilai kearifan lokal dan kompleksitas strategi sosial-politik yang telah dikenal masyarakat Batak jauh sebelum era modern.